Minggu, 01 Oktober 2017

Asal usul Situ patenggang - Situpatenggang Ciwidey

Asal usul Situ patenggang - Situpatenggang Ciwidey

SitupatenggangCiwidey.com - Informasi admin untuk Kang Bro dan Teh Sista seputar Asal usul Situ patenggang - Situpatenggang Ciwidey, semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita, berikut beberapa redaksi yang bisa dikumpulkan seputar Asal usul Situ patenggang - Situpatenggang Ciwidey :

Situ Patengan, Danau Legendaris nan Romantis - Alkisah, pasangan kekasih Ki Santang dan Dewi Rengganis saling dimabuk cinta. Setelah sekian lama berpisah, mereka saling mencari. Sang putra prabu dan putri titisan dewi akhirnya bertemu disuatu tempat dan memadu janji. Sang Dewi Rengganis pun meminta kekasihnya untuk membuatkan danau beserta perahu untuk dinaiki mereka berdua. Maka terbentuklah Situ Patengan.

Asal usul Situ patenggang - Situpatenggang Ciwidey

Begitulah legenda warga tanah Parahiyangan bertutur tentang asal muasal danau indah di Rancabali, Ciwidey, kabupaten Bandung ini. Lokasi pertemuan dua sejoli itu kini dikenal dengan nama 'Batu Cinta'. Perahu ki Santang pun kini dipercaya menjadi pulau Asmara/Sasaka yang berbentuk hati di tengah danau yang juga dikenal dengan nama 'Situ Patenggang'.

Nama Situ Patengan sendiri berasal dari kata 'pateang-teangan' yang memiliki makna saling mencari. Menurut kisah ini, pasangan yang pernah singgah di Batu Cinta dan mengeliling pulau Asmara diyakini akan menemukan cinta abadi seperti dua sejoli Ki Santang dan Dewi Rengganis. Berdasarkan kisah cinta yang melegenda itu, lokasi ini amat layak dipertimbangkan sebagai tujuan wisata bulan madu bagi para pasangan muda yang baru menikah.

Dikelilingi perkebunan teh yang menyejukkan mata, danau ini juga menjadi salah satu alternatif lokasi yang tepat bagi wisata keluarga. Kita bisa mencoba berkeliling danau dengan perahu atau mencoba bersepeda air untuk jarak yang tidak terlalu jauh dari tepian. Sebelumnya, disarankan Anda melakukan tawar menawar harga untuk memperoleh harga sewa yang cocok. Keberadaan perkebunan stroberi di sepanjang sisi jalan berkelok di tepi danau ini, semakin menambah daya tarik situ patengan.

Situ Patengan terletak pada ketinggian 1600 m, berada di kaki gunung Patuha. Untuk mencapai lokasi yang berjarak kurang lebih 47 km dari kota Bandung ini, dibutuhkan waktu tempuh sekira 2 jam. Melalui pintu Tol Kopo atau Buah Batu, kita dapat mengambil arah ke Selatan Bandung. Nantinya akan cukup banyak petunjuk jalan menuju Ciwidey/Kawah Putih yang akan memandu kita ( Sumber : www.indonesiakaya.com )

Asal Usul Situpatenggang Versi 2 - Situ Patengan adalah sebuah danau di daerah Ciwidey, kabupaten Bandung, propensi Jawa Barat, Indonesia.
Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat setempat, di sebutkan bahwa situ merupakan istilah bahasa sunda yang memiliki arti telaga/danau dan patengan juga berasal dari bahasa sunda, pateang-teangan yang berarti saling mencari.

Konon istilah Situ Patengan berasal dari cerita kejadian di masa lalu yang mengisahkan tentang kisah cinta dua insan manusia yang bernama Dewi Rengganis dan Prabu Kian Santang. Dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan Kerajaan Siliwangi, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Prabu Kian Santang dan Dewi Rengganis. Di sebutkan pula bahwa Prabu Kian Santang merupakan salah satu anggota keluarga Kerajaan Siliwangi, sedangkan Dewi Rengganis adalah seorang wanita rakyat jelata yang memiliki kecantikan tiada tara.

Kisah-kasih kehidupan sehari hari mereka selalu di penuhi dengan cinta dan kasih sayang, hingga suatu ketika kehidupan rumah tangga mereka mendapat cobaan di mana Prabu Kian Santang di beri tugas oleh kerajaan untuk menumpas pemberontakan yang sedang mengancam keberadaan Kerajaan Siliwangi. Dengan ketegaraan hati dan keiklasan yang besar, maka Dewi Rengganis mengantar keberangkatan suaminya ke medan perang. Sebelum berpisah mereka berdua berjanji untuk saling setia mempertahankan mahligai cinta mereka.

Perpisahan memang menyakitkan namun sang prabu sebelum berangkat menitipkan sang putri kepada kedua sahabatnya yaitu Sanopati Layung yang saat ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai si Layung ikan yang besar bila berada di dalam air dan berwujud Mencek (Rusa) bila ada di darat dan Sanopati Agor yang berwujud anjing yang saat ini diyakini pula hewan tersebut berkepala manusia dan bertubuh anjing, biasa dipanggil Aul.

Hari berganti hari minggu bulan dan tahun telah berganti, penantian Dewi Rengganis tak kunjung tiba sampai akhirnya pada suatu hari Dewi Rengganis mendapat wangsit bahwa dirinya harus bertapa di hutan agar dapat bertemu dengan kekasihnya, yaitu di sebuah batu yang saat ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Batu Cinta. Setelah waktu berlalu beberapa tahun akhirnya selesai tugas Prabu Kian Santang dan ia pulang. Namun sesampainya di rumah ia tidak mendapati Dewi Rengganis istrinya dan sahabatnya, lalu ia mencari kesana-kemari sampai akhirnya ia bertemu dengan Senopati Layung dan Senopati Agor dan mereka memberitahukan keberadaan Dewi Rengganis.

Namun pada waktu Raden Kian Santang mencari ke tempat yang di tunjukkan oleh sahabatnya, Dewi rengganis tidak ada disitu. Ditempat lain Dewi Rengganis bertemu dengan mereka dan mereka memberitahukan bahwa Raden Kian Santang sudah pulang dan sedang mencarinya. Maka dengan tergesa-gesa Dewi Rengganis pergi untuk menjumpai Raden Kian Santang, suamuinya itu. Tapi ternyata Raden Kian Santang telah meninggalkan tempat itu. Maka mereka saling mencari ( Pateang-teangan ) dan ahkirnya mereka bertemu di sebuah batu. Raden Kian Santang dan Dewi Rengganis saling berpelukan, dewi Rengganis menangis tersedu-sedu karena rindunya. Tak terasa air mata Dewi rengganis menggenangi tempat itu yang membentuk sebuah Danau. Karena itulah maka Danau ini dinamakan Danau ( Situ ) Patengan ( saling mencari ) dan batu tempat mereka berdiri dinamakan batu Cinta yang letaknya di tengah Danau. Demikian kisah dari Situ Patengan. Sumber : legendong.blogspot.co.id.

Kisah Mistik Menambah Situ Patengan Makin Eksotik - Kabut putih masih menggumpal di atas permukaan air telaga yang dingin, dikelilingi pepohonan yang kelabu. Perlahan matahari terbit dari balik hutan, cahayanya kuning kemerahan, menampakan warna pepohonan yang hijau seiring terangkatnya kabut yang menyelimuti telaga.

Pemandangan itu tampak di Situ Patengan, kawasan wisata air yang eksotis di Bandung selatan, Ciwidey, beberapa waktu lalu. Sesekali terdengar suara hewan liar dari arah hutan Cagar Alam Patengan. Di hutan itu memang terdapat sekelompok lutung Jawa dan surili liar yang keberadaannya dilindungi.

Pagi itu aktivitas Situ Patengan masih sepi, puluhan perahu masih tertambat di pinggiran. Namun saat sepi itulah Situ Patengan menegaskan keindahannya. Situ ini berada di antara hutan seluas 153 hektar.

Hutan seluas itu berada dalam dua pengelolaan, yakni 85 hektar sebagai Cagar Alam Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, dan 68 hektar sebagai Taman Wisata Alam (TWA) Situ Patengan.

Situ Patengan memiliki air yang bersumber dari banyak mata air dan sungai. Di tengah situ terdapat pulau kecil bernama Pulau Asmara. Sebagaimana tempat-tempat wisata alam yang indah, Situ Patengan memiliki sisi mistis yang bercampur dengan legenda.

Tidak sulit untuk mendengar legenda maupun mitos yang berkembang di Patengan. Hampir semua warga lokal di sana tahu penggalan-penggalan legenda situ yang berdekatan dengan Kawah Putih, Gunung Patuha itu.

Sugih Pranaditya (21) menceritakan asal mula nama Pulau Asmara di Situ Patengan. Di pulau tersebut terdapat lokasi yang bernama Batu Cinta. “Batu Cinta tempat bertemunya Ki Santang dan Dewi Rengganis,” cerita pria 21 tahun ini.

Sugih Pranaditya sehari-hari bekerja menyewakan perahu di danau tersebut, termasuk mengantar KabarKampus berkeliling Situ Patengan. Pria tamatan SMA ini hafal di luar kepala legenda Situ Patengan.

Di sela bunyi mesin yang menggerakan perahu kayu yang di lambungnya bertuliskan “Arians”, ia menuturkan, dahulu kala di jaman Kerajaan Padjdjaran hidup seorang gadis desa bernama Dewi Rengganis yang cantiknya tidak ketulungan.

Sebagai gadis yang sudah memasuki usia menikah, Dewi Rengganis berdoa agar menemukan cinta yang tidak membuatnya terluka. Doa sang dewi terkabul, bahkan jauh melebihi ekspektasinya. Seorang putra Kerajaan Padjdjaran bernama Ki Santang jatuh cinta kepadanya.

Sugih Pranaditya menunjukkan lokasi Batu Cinta, sebuah batu sebesar sapi yang ditumbuhi banyak lumut hijau. Tak jauh dari batu itu terdapat tulisan warna merah “Batu Cinta”. Sugih tetap mengendalikan perahunya, menyibak air danau yang jernih, menyusuri sisi pulau yang baru tersinari matahari pagi.

Menurutnya, hingga kini Batu Cinta masih dikunjungi wisatawan, ada yang penasaran karena mendengar namanya, ada pula yang percaya dengan mitos bahwa siapa pun yang datang ke lokasi tersebut akan mendapat pasangan yang ideal.

“Dulu orang yang belum punya pacar sering datang ke sini. Kalau sekarang mah sudah sudah mulai jarang,” katanya.

Terlepas dari mitos itu, Situ Patengan menjadi objek wisata yang layak dikunjungi. Wisata ke Situ Patengan bisa sekalian mampir ke Kawah Putih atau mandi air panas di kolam pemandian yang berdiri di Kecamatan Rancabali tersebut.

Tentu datang ke Situ Patengan tidak lengkap jika tidak berperahu. Ada sensasi yang berbeda antara menikmati keindahan alam di darat dan di atas air. Selain itu, makin banyak pengunjung akan membuat bertambah pula penghasilan tukang-tukang perahu seperti Sugih Pranaditya.

Di Situ Patengan terdapat 33 unit perahu yang dinakhodai 66 orang termasuk Sugih. Mereka tergabung dalam Paguyuban Perahu Patengan. Tarif untuk naik perahu di Situ Patengan Rp35.000/orang. Sumber : KabarKampus.com

Demikianlah informasi dari admin seputar Asal usul Situ patenggang - Situpatenggang Ciwidey yang bisa diinfokan, more informasi atau jika Anda punya kritik, saran, atau masukan atau apapun mengenai informasi ini, atau mau nenanyakan seputar wisata di Ciwidey dan akomodasi hubungi admin di hp 081323739973 | 08156039973 atau telepon 022-85924482 | 022-85920070, terima kasih sudah membaca informasi ini yang berjudul Asal usul Situ patenggang - Situpatenggang Ciwidey.